Siang ini tak ada cerita gembira, semua tak banyak berubah setelah perpisahan kami yang entah sementara atau justru selamanya. Semua sirna dan aku tak akan lagi berharap banyak kepadanya. Kekasihku, benarkan pantas disebut demikian? Mungkin tidak, dia bahkan tak pernah bahagia bersamaku, selalu saja konflik muncul dan itu tak lain karena sikapku. Lantas hubungan kami selama ini disebut apa?
Panas matahari tak ubahnya membuat peluhku menetes di sekitar kening, sungguh suhu siang ini tinggi sekali, panasnya seolah mampu membakar lapisan paling luar kulitku. Panas ini memang tak sepanas hatinya ketika dia mendengar aku mengatakan hal yang tak seharusnya aku katakan, "Nggak akan sms kamu,lagi!" Ya Tuhan orang macam apa aku, semua sudah aku katakan dan sekarang aku menyesalinya. Apa yang harusnya aku lakukan pun aku tak tau.
Masih saja aku diam, semua perasaan ini bercampur membaur menjadi satu, aku sedih dan kini dia tersakiti olehku. Maafku tak bisa lagi dia terima, dan aku semakin merasa bersalah karenanya. Hidup ini serasa berjalan lambat tanpa senyum darinya, lelah ini semakin terasa parah dengan jauhnya dia dariku. Ya Tuhan dalam kondisi seperti ini, ingin rasanya memeluk dia yang tak pernah absen tersenyum padaku.
Sekarang aku sendiri, tak bisa aku bendung air mataku yang sudah memenuhi kelopak mata, kini air mata kesedihan ini membasahi pipi dan wajah sawo matangku. Ingin rasanya berteriak namun aku tak punya kekuatan untuk itu. Aku diam, hanya diam dan tak melakukan apapun, menunggunya di sini dengan hati penuh bimbang, berharap hal yang baik akan diberikan Tuhan pada kami berdua. "Aku tak tau apakah ini berkah atau musibah, aku hanya akan berbaik sangka pada Allah".
Panas matahari tak ubahnya membuat peluhku menetes di sekitar kening, sungguh suhu siang ini tinggi sekali, panasnya seolah mampu membakar lapisan paling luar kulitku. Panas ini memang tak sepanas hatinya ketika dia mendengar aku mengatakan hal yang tak seharusnya aku katakan, "Nggak akan sms kamu,lagi!" Ya Tuhan orang macam apa aku, semua sudah aku katakan dan sekarang aku menyesalinya. Apa yang harusnya aku lakukan pun aku tak tau.
Masih saja aku diam, semua perasaan ini bercampur membaur menjadi satu, aku sedih dan kini dia tersakiti olehku. Maafku tak bisa lagi dia terima, dan aku semakin merasa bersalah karenanya. Hidup ini serasa berjalan lambat tanpa senyum darinya, lelah ini semakin terasa parah dengan jauhnya dia dariku. Ya Tuhan dalam kondisi seperti ini, ingin rasanya memeluk dia yang tak pernah absen tersenyum padaku.
Sekarang aku sendiri, tak bisa aku bendung air mataku yang sudah memenuhi kelopak mata, kini air mata kesedihan ini membasahi pipi dan wajah sawo matangku. Ingin rasanya berteriak namun aku tak punya kekuatan untuk itu. Aku diam, hanya diam dan tak melakukan apapun, menunggunya di sini dengan hati penuh bimbang, berharap hal yang baik akan diberikan Tuhan pada kami berdua. "Aku tak tau apakah ini berkah atau musibah, aku hanya akan berbaik sangka pada Allah".
No comments:
Post a Comment