Pages

Friday, November 23, 2012

Hujan Lagi Sayang


Hari ini hujan sayang, langit tak begitu bersahabat, gelap dan tidak tampak bintang, juga bulan. Hai sayang, begitu pula dengan hatiku, gelap seperti petang ini. Ya, sedikit sekali matahari menyinari semenjak kepergianmu merantau. Hanya ada sisa sedikit api yang dapat membangkitkan tubuhku untuk tetap bekerja.

Aku terharu dengan hujan petang ini sayang. Mengingatkanku padamu yang tak pernah berhenti mencintai hujan. “Hujan itu berkah” katamu ketika kita duduk berdua menunggu hujan reda di depan emper toko. Ya, kamu, kamu yang selalu senang ketika hujan turun, sedangkan aku merasakan hal biasa akan hal itu. Hujan selalu biasa untukku ketika itu, tapi sekarang, hujan begitu istimewa dan sangat aku nantikan sayang. Hujan membasahi hatiku, menumbuhkan semangatku untuk bertahan di sini, menunggu kepulanganmu.

Hujan petang ini sayang, sama seperti hujan yang membasahi kita berdua ketika pertama kencan. Ya, bukankah waktu itu bisa disebut kencan, entahlah. Begitu lebat dan tak kunjung berhenti. Hujan petang ini melukiskan wajahmu jelas sayang. Matamu, tidung, juga bibir dan pipimu, begitu indah. Hujan memang tak pernah salah melukiskan ketampananmu.

Hai sayang, tetaplah cintai hujan dan jangan pernah kamu membencinya. Ya, karena kecintaanmu pada hujan adalah jalan bagiku untuk melihatmu, mengenang setiap hal yang kita lalui bersama di masa lalu. Aku dan kamu, kita akan sama-sama mencintai hujan, bukankah begitu? Ya, aku harap.

No comments:

Post a Comment