Hari ini hujan sayang, langit tak begitu bersahabat, gelap dan tidak tampak
bintang, juga bulan. Hai sayang, begitu pula dengan hatiku, gelap seperti
petang ini. Ya, sedikit sekali matahari menyinari semenjak kepergianmu
merantau. Hanya ada sisa sedikit api yang dapat membangkitkan tubuhku untuk
tetap bekerja.
Aku terharu dengan hujan petang ini sayang. Mengingatkanku padamu yang tak
pernah berhenti mencintai hujan. “Hujan itu berkah” katamu ketika kita duduk
berdua menunggu hujan reda di depan emper toko. Ya, kamu, kamu yang selalu
senang ketika hujan turun, sedangkan aku merasakan hal biasa akan hal itu.
Hujan selalu biasa untukku ketika itu, tapi sekarang, hujan begitu istimewa dan
sangat aku nantikan sayang. Hujan membasahi hatiku, menumbuhkan semangatku
untuk bertahan di sini, menunggu kepulanganmu.
Hujan petang ini sayang, sama seperti hujan yang membasahi kita berdua
ketika pertama kencan. Ya, bukankah waktu itu bisa disebut kencan, entahlah.
Begitu lebat dan tak kunjung berhenti. Hujan petang ini melukiskan wajahmu
jelas sayang. Matamu, tidung, juga bibir dan pipimu, begitu indah. Hujan memang
tak pernah salah melukiskan ketampananmu.
Hai sayang, tetaplah cintai hujan dan jangan pernah kamu membencinya. Ya,
karena kecintaanmu pada hujan adalah jalan bagiku untuk melihatmu, mengenang
setiap hal yang kita lalui bersama di masa lalu. Aku dan kamu, kita akan
sama-sama mencintai hujan, bukankah begitu? Ya, aku harap.
No comments:
Post a Comment